Ukuran Keimanan Seseorang

keimanan seseorang

keimanan menjadi sebuah hal utama bagi setiap manusia yang menganut agamanya masing-masing, terutama dalam agama islam keimanan menjadi sebuah pokok utama untuk menjadi hamba yang sejati.

Pernah suatu saat ada orang Badui, orang Gunung, datang ke hadapan Rasulullah SAW, orang ini mengatakan dirinya beriman.

Allah mengoreksi pernyataan itu, karna iman belum masuk hati, cerita ini ada di (QS Al-hujurat[49]:14).

setidaknya ada dua gambaran yang bisa diambil dari kisah itu, bahwa keimanan akan menjadi tolak ukur utama, yaitu :

1. iman tidak sekedar diucapkan.

2. letak iman itu masuk hati.

Di zaman modern ini, pemikiran manusia menjelajah pada seluruh pojok dan titik alam semesta, ada yang terkesima dengan susunan alam semesta.

mereka melihatnya lewat teropong dan hitungan matematis serta teori relativitas. atau lewat elektron dan radiasi energinya bersama mekanika kwantum, atau berfikir jauh lewat filsafat dengan berbagai penjelasanya.

Semua merupakan penuntun bermulanya iman atau bertambah tebalnya iman.

Jadi semakin berilmu semakin beriman,.,? Belum tentu.

orang berilmu

Tidak ada hubunganya, tidak ada nilai korelasinya antara orang berilmu dengan orang beriman.

Iman itu di dada, di hati, bukan di otak atau di kepala. Al-qur’an juga sangat jelas menyatakan orang-orang yang beriman dan berilmu derajatnya setingkat lebih tinggi.

Manusia di anugerahi akal, mata, pendengaran dan hati untuk memahami sesuatu yang diberikan dalam hidupnya, kini kewajiban manusia menentukan sikap serta tindakan, apakah berada di wilayah lurus atau bengkok, baik atau buruk, benar atau salah.

Untuk memperoleh itu semua, tidak ada jalan lain untuk memperolehnya, kecuali belajar dan slalu belajar. Berusaha lebih beriman, lebih berilmu.,.,.,.,.,!

Baca Juga : Apakah dunia tasawuf bisa di tempuh tanpa seorang mursyid

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *