jalan menuju allah dengan konsep tasawuf harus dalam bimbingan mursyid


Tasawuf adalah suatu ilmu yang dapat di pelajari dimana ilmu ini mengandung akhlak yang baik, bahkan ilmu ini tergolong fardu ain.

Sehingga wajib di pelajari bagi setiap orang mukmin, karna ilmu ini bersifat untuk membenahi hati yang masih kotor.

Apalagi jika ada murid ingin mendekatkan diri kepada Allah pasti harus membersihkan dulu kotoran hati/membenahi hati.

jalan menuju allah dengan konsep tasawuf harus di bimbing dengan seorang mursyid

JIka seseorang ingin ingin mencapai ke ridhoan Allah swt(jalan menuju Allah) maka seorang mursyid lah yang bisa membimbingnya sampai tahapan hakikat(puncak spiritual).

Tanpa bimbingan Mursyid murid akan tersesat dari jalan yang benar, bahkan bisa jadi gurunya setan. Apalagi thariqot bukan sekedar soal bacaan, wirid atau soal tatacara, namun lebih dari itu adalah soal penataan batin dalam ibadah dan hidup di dunia hingga akhirat.

seorang yang mengikuti thariqot harus memenuhi beberapa rukun thariqot, diantaranya :

1.uzlah(menyendiri dari keramaian).
2.sumtu (diam).
3.lapar(kondisi perut yang di jaga untuk selalu bepuasa / tidak kebanyakan makan.
4.as-saru(tidak tidur di malam hari).

sebuah thariqot kalau rukunya saja tidak di lakukan maka bisa di katakan thariqotnya gagal, sama halnya dengan islam dan iman yang semuanya harus terpenuhi.

jalan menuju allah dengan konsep tasawuf

Dalam praktek thariqot sufi, bahwa mereka yang melakukan sebuah perjalanan spiritual tanpa bimbingan seorang mursyid bisa di pastikan perjalanan spiritualnya gagal.

Bukti-bukti historis kegagalan spiritual tersebut sudah di buktikan oleh ulama sendiri yang pernah mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan mursyid.

banyak ulama-ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti ibnu Athoilah as-sakandari, sulthanul Ulama izzudin ibnu abdi salam, Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni, dan Hujjatul islam Abu hamid Al-Ghozali akhirnya harus menyerah pada pengembaraanya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkn serang mursyid yang kamil mukammil.

Masing – masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang mursyid.

Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apapun hanyalah “dunia ilmu” yang hakikatnya lahir dari amaliyah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliyah ulama yang telah di bukakan jalan ma’rifat itu sendiri.

Jalan ma’rifat tidak bisa di tempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih ilmu yaqin belaka, belum sampai pada tahapan haqqul yaqin.

Mereka yang sudah merasa sudah wushul kepada Allah tanpa bimbingan serang mursyid wushulnya bisa di kategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya.

Dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawatif – hawatif (bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin.

Disinilah jebakan – jebakan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal : “Barang siapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seotrang guru, maka gurunya adalah setan”.

Bahkan seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki Ulama tersebut lebih tinggi di banding sang mursyid. Tetepi dalam konsep ketuhanan atau batiniah sang ulama tentu tidak begitu sangat menguasainya.

Seorang Mursyid tidaklah mudah untuk mencapai syarat – syarat tertentu, sehingga dia sah menyandang mursyid kamil mukammil.

Zaman sekarang banyak mursyid yang bermunculan sehingga menarik perhatian dari masyarakat, tetapi hakihatnya tidak memiliki standar sebagai mursyid kamil mukammil.

Karna predikat seorang pembimbing ruhani mesti seorang wali dan seorang yang mursyid. Dengan kata lain seorang Mursyid yang bisa di andalkan adalah seorang Mursyid yang kamil mukammil.

sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu mennyebarkan ajaran thariqotnya.

Maka akhirnya proses thariqotnya dapat kendala yang luar biasa, dan ahirnya banyak yang berhenti di tengah jalan.

lalu seperti apa sih seorang Mursyid kamil mukammil sehingga dapat membimbing kita yang sedang mendalami dunia tasawuf?

Dalam kitab Al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘ayyad menegaskan bahwa Syarat – syarat seorang Mursyid yang kamil mukammil minimal ada 5 :

1.memiliki sentuhan rasa rohani yang tajam.

2.memiliki pengetahuan yang benar.

3.memiliki cita / himmah yang luhur.

4.memiliki mata hati yang tajam untuk menunjukan jalan ilahi.

5.memiliki perilaku ruhani yang diridhoi.

Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:

1.Bodoh terhadap ajaran agama .

2.mengabaikan kehormatan ummat islam.

3.melakukan hal-hal yang tidak berguna.

4.mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.

5.berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.

Menurut Asy-Syadiliah, seorang mursyid yang hakiki adalah mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada muridnya.

Banyak mursyid yang tidak mengetahui kadar batin / ruhani dari para muridnya tidak pula mengetahui masa depan qalbu para muridnya dan tidak mengetahui rahasia ilahi dibalik nurani para muridnya.

Sehingga mursyid tersebut malah membebani muridnya karna tindakanya yang gegabah memberikan amaliyah atau tugas yang membebani muridnya dari segi fisik ataupun jiwanya.

Rasulullah SAW adalah teladan paling paripurna ketika hendak menuju kepada Allah dalam isra’ mi’raj nya. Rasulullah SAW senantiasa di bimbing malaikat jibril as. Fungsi jibril disini identik dengan mursyid di mata kaum sufi.

pada kesimpulanya mencari cahaya ilahi itu harus ada tuntutanya atau ada pembimbingnya, dengan itu maka para pencari jalan untuk menuju Allah akan sampai di sisi-Nya.

sejatinya cahaya ilahi itu tidak pernah bisa ditemukan, karna cahaya ilahi itu tdak pernah hilang dan tidak pernah surut, bagaimana anda mencari sesuatu, sedangkan sesuatu itu tidak pernah hilang dan selalu ada?

Maka anda harus belajar dengan mursyid kamil mukammil agar perjalanan cahaya anda tidak tertutup oleh diri anda sendiri. Karna Allah itu tidak bisa di tutup oleh apapun, hanya diri kita yang menutup diri dari Allah, sebab apa? sebab kita punya nafsu yang masih kita liarkan sehingga kita sendiri yang menutupnya dari cahaya ilahi.

Dan yang terakhir jangan pernah mau ditipu oleh sejumlah program spiritual, yang mengatasnamakan ma’rifat, dimana bisa di raih dengan mata terpejam lalu kelihatan cahaya – cahaya yang melintas, lalu mengkalim bahwa cahaya adalah Allah.

Semoga bermanfaat.,.,.,

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *